Jumat, 04 Januari 2019

Pilpres 2019 Ditentukan oleh Agama atau Ekonomi?




Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019 akan diselenggarakan oleh Indonesia pada tanggal 17 April 2019 mendatang. Pilpres 2019 ini menjadi ajang pesta demokrasi rakyat terbesar sepanjang sejarah politik di Indonesia. Sebab, sejak diselenggarakannya pemilihan presiden pertama sampai dengan pemilihan presiden tahun 2019 ini, baru kali ini dilaksanakan serentak se Indonesia bersama dengan pemilihan umum para anggota legislatif.

Hal ini menjadikan tahun 2019 sebagai tahun politik yang penuh dengan berbagai unsur politik di dalamnya. Politik pun kemudian merambah hingga ke berbagai bidang kehidupan, seperti sosial, budaya, agama, dan ekonomi. Terlebih lagi, Pilpres 2019 ini diperkirakan akan lebih panas dari pada pemilihan presiden pada periode sebelumnya. Sebab, sejak periode pemilihan presiden sebelumnya telah mempertemukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Kemudian pada Pilpres 2019 ini, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan yang sama, yakni persaingan memperebutkan posisi Presiden Republik Indonesia.

Untuk menghadapi Pilpres 2019, calon presiden Joko Widodo memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya. Ma’ruf Amin merupakan Ketua Umum Majelis ulama Indonesia atau MUI, sekaligus Ketua Dewan Penasehat Nahdatul Ulama yang merupakan salah satu organisasi Islam terbesar. Pilihan Joko Widodo ini tentu saja dapat meningkatkan kredibilitas muslim Joko Widodo. Terlebih lagi, Indonesia merupakan negara dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor pendukung kemengangan Joko Widodo dengan menggandeng Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden.

Ma’ruf Amin merupakan salah satu tokoh pemimpin Islam yang berprofil tinggi dan memegang peran penting dalam Islam di Indonesia. Memilih Ma’ruf Amin sebagai pasangannya seakan mengarah bahwa Joko Widodo ingin mendapatkan banyak dukungan dari kalangan uamt Islam. Terlebih lagi, MUI merupakan lembaga yang berada di atas dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah.

Di lain sisi, dari bidang ekonomi ternyata juga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap arah Pilpres 2019. Pada kuartal ketiga tahun 2018 yang lalu, kondisi ekonomi Indonesia sempat melemah sebab adanya kenaikan harga minyak mentah dunia serta perang perdagangan Amerika Serikat dengan China. Selain itu, juga terjadi penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat terhadap rupiah, bahkan hingga mencapai Rp 15.227,-. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sempat mengalami pelemahan.

Hal inilah yang seringkali disuarakan oleh pasangan calon Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam ‘menyerang’ pasangan calon Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Sempat terjadinya pelemahan rupiah pada masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo sering digunakan oleh Prabowo dan Sanidaga untuk ‘menyerang’ Joko Widodo. Pelemahan rupiah tersebut menurut Prabowo, menunjukkan bahwa pemerintahan Joko Widodo salah dalam menerapkan strategi dalam perekonomian dan pembangunan negara Indonesia.

Prabowo dan Sandiaga memang lebih mengarahkan kampanye dan visi misinya dalam hal perekonomian negara Indonesia. Prabowo banyak menjelaskan terkait dengan rencananya dalam membangun perekonomian dan kemajuan negara Indonesia. Terlebih lagi, calon wakil presiden pendamping Joko Widodo dianggap kurang berkompeten dalam hal perekonomian negara, sehingga ia diragukan mampu membawa perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Meskipun demikian pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno juga sering diisukan dengan berbagai infromasi yang kurang baik. Di antaranya adanya penyuapan terkait dengan pemilihan Sandiaga sebagai calon wakil presiden, serta adanya ketidakrukunan dalam koalisi pendukung Prabowo dan Sandi. Diharapkan, para pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan bersaing di Pilpres 2019 nanti dapat bersaing secara bersih dan sehat, serta dapat dipilih pemimpin yang amanah dan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi.


EmoticonEmoticon